laporan Praktikum Biokimia (Part 1)

Praktikum 1 & 2
TES IODIUM DAN BENEDICT

Tanggal Praktikum : 04 Oktober 2010
Tujuan : - mengetahui kandungan zat tepung
- mengetahui kandungan gula

Prinsip Uji Benedict :
Benedict adalah bentuk lain dari test fehling dan menghasilkan larutan tunggal yang lebih baik untuk pengujian, karena benedict lebih stabil dari pada fehling. Hasil yang didapatkan berupa endapan hijau, kuning, merah, tergantung kuatnya larutan gula.
Prinsip Uji Iodium :
Iodium memberikan warna kompleks dengan polisakarida tepung memberikan warna biru pada iodium, glikogen dan tepung yang sudah dihidrolisis sebagian (eritrodekstrin) memberikan warna merah sampai coklat dengan iodium.
A. Landasan Teori
Karbohidrat tersebar luas baik dalam jaringan hewan maupun jaringan tumbuh-tumbuhan. Dalam tumbuh-tumbuhan, karbohidrat dihasilkan oleh fotosintesis dan mencakup selulosa serta pati. Pada jaringan hewan, karbohidrat dalam bentuk glukosa dan glikogen. Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton polihidroksil atau turunannya. selain itu, ia juga disusun oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia zaman dahulu menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon.
Pada umumnya karbohidrat merupakan zat padat berwarna putih yang sukar larut dalam pelarut organik tetapi larut dalam air (kecuali beberapa polisakarida).
Karbohidrat dibagi dalam 4 golongan yaitu : monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida Monosakarida adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi bentuk yang lebih sederhana. Monosakarida dapat dibedakan berdasarkan banyaknya atom C pada molekulnya, misalnya triosa dengan 3 atom C; tetrosa dengan 4 atom C; pentosa dengan 5 atom C; heksosa dengan 6 atom C dan heptosa sengan 7 atom C. Selain itu dibedakan atas gugus aldehid atau gugus keton yang dikandungnya menjadi aldosa dan ketosa.
• Monosakarida meliputi glukosa, galaktosa, manosa, fruktosa, dan lain sebagainya.
• Disakarida adalah senyawa yang dapat dihidrolisis menjadi 2 molekul monosakarida.
• Oligosakarida adalah karbohidrat yang dapat diuraikan menjadi 2 sampai 10 molekul monosakarida.
• Polisakarida merupakan polimer yang tetrdiri atas unit-unit monosakarida dan bila dihidrolisis menghasilkan lebih dari 6 molekul monosakarida. Glikogen dan amilum merupakan polimer glukosa.
• Pati / Amilum yang terdapat dalam alam tidak larut dalam air dan memberikan warna biru dengan iodium. Hasil hidrolisis pati/amilum adalah glukosa. Hidrolisis pati akan terjadi pada pemanasan dengan asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk amilodeksterin yang memberi warna biru dengan iodium, eritrodekstrin yang memberi warna merah dengan iodium serta berturut-turut akan dibentuk akroodekstrin, maltosa, dan glukosa yang tida memberi warna dengan iodium
• Glikogen, terdapat pada hewan, molekulnya lebih kecil daripada amilum.
Karbohidrat akan terjadi reaksi reduksi oksidasi dan dihasilkan endapan berwarna merah dari kupro oksida. Jika tidak ada zat yang mereduksi maka larutan Benedict ini tetap jernih sesudah percobaan. Tetapi apabila jumlah karbohidrat yang mereduksi banyak sekali maka reaksi terlihat sebelum dipanaskan.
Dalam percobaan ini yang terpenting adalah terjadinya kekeruhan (endapan halus/kasar) dan bukan perubahan warna. Kemungkinan akan terlihat kekeruhan dengan hijau, kuning atau merah tergantung dari halus kasarnya endapan Cu2O.
Karbohidrat golongan polisakarida akan memberikan reaksi dengan larutan iodine dan memberikan warna spesifik bergantung pada jenis karbohidratnya. Amilose dengan iodine akan berwarna biru, amilopektin dengan iodine akan berwarna merah violet, glikogen maupun dextrin dengan iodine akan berwarna coklat.
1. Susunan Kimia
Molekul karbohidrat terdiri atas atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2 : 1 seperti pada molekul air. Seperti contoh molekul glukosa mempunyai rumus kimia C6H12O6, sedangkan rumus sukrosa adalah C12H22O11. Pada glukosa tampak bahwa jumlah atom hidrogen berbanding jumlah atom oksigen ialah 12:6 atau 2:1 sedangkan pada sukrosa 22:11atau 2:1. Dengan demikian, orang berkesimpulan adanya air dalam karbohidrat karena hal ini maka dipakai kata karbohidrat, yang berasal dari “karbon” yang berarti mengandung unsur karbon dan “hidrat” yang berarti air.
2. Penggolongan Karbohidrat
a) MONOSAKARIDA
Monosakarida ialah karbohidrat yang sederhana, dalam arti molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom karbon saja dan tidak dapat diuraikan secara hidrolisis dalam kondisi lunak menjadi karbohidrat lain. Monosakarida yang paling sederhana adalah gliseraldehida dan dihodroksiaseton.
• Glukosa
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat dalam buah-buahan, dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi yang tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita memakan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu.
• Fruktosa
Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri dan karenanya disebut juga levulosa. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis daripada glukosa, juga lebih manis daripada gula tebu atau sukrosa.
• Galaktosa
Monosakarida ini jarang terdapat bebas di alam. Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa mempunyai rasa yang kurang manis daripada glukosa dan kurang larut dalam air.
b) OLIGOSAKARIDA
Senyawa yang termasuk oligosakarida mempunyai molekul yang terdiri atas beberapa molekul monosakarida. Dua molekul monosakarida yang berkaitan satu dengan yang lain, membentuk satu molekul disakarida.
• Sukrosa
Sukrosa ialah gula yang kita kenal sehari-hari baik yang berasal dari tebu maupun dari bit. Sukrosa juga bisa terdapat dalam tumbuhan lain, misalnya dalam buah nanas dan dalam wortel. Dengan hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan fruktosa. Pada molekul sukrosa terdapat ikatan antar molekul glukosa dan fruktosa, yaitu antara atom karbon nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada fruktosa melalui atom oksigen.
• Laktosa
Dengan hidrolisis laktosa akan menghasilkan D-galaktosa dan D-glukosa karena itu laktosa adalah sustu disakarida. Ikatan galaktosa dan glukosa terjadi antara atom karbon nomor 1 pada galaktosa dan atom karbon nomor 4 pada glukosa.
• Maltosa
Maltosa adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Ikatan yang terjadi ialah antara atom karbon nomor 1 dan atom karbon nomor 4, oleh karenanya maltosa masih mempunyai gugus –OH glikosidik dan dengan demikian masih mempunyai sifat mereduksi. Maltosa merupakan hasil antara dalam proses hidrolisis amilum dengan asam maupun dengan enzim.
c) POLISAKARIDA
Pada umumnya polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih kompleks daripada mono dan oligosakarida. Molekul polisakarida terdiri atas banyak molekul monosakarida. Polisakarida yang terdiri atas satu macam monosakarida saja disebut heteropolisakarida. Umumnya polisakarida berupa senyawa berwarna putih dan tidak berbentuk kristal, tidak mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai sifat mereduksi.
• Amilum
Polisakarida ini terdapat banyak dialam, yaitu pada sebagian tumbuhan. Amilum atau dalam bahasa sehari-hari disebut pati, terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian. Butir – butir pati apabila diamati dengan mikroskop, ternyata berbeda-beda bentuknya, tergantung dari tumbuhan apa pati itu diperoleh. Amilum terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua duanya adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya amilopektin.
• Glikogen
Seperti amilum, glikogen juga menghasilkan D-glukosa pada proses hidrolisis. Glikogen terdapat pada hati dan otot, hati berfungsi sebagai tempat pembentukan glikogen dari glukosa. Apabila kadar glukosa dalam darah normal bertambah, sebagian diubah menjadi glikogen sehingga kadar glukosa dalam darah normal kembali. Sebaliknya apabila kadar glukosa darah menurun, glikogen dalam hati diuraikan menjadi glukosa kembali, sehingga kadar glukosa darah normal kembali.
• Dekstrin
Pada reaksi hidrolisis persial, amilum terpecah menjadi molekul molekul yang lebih kecil yang dikenal dengan nama dekstrin. Jadi dekstrin adalah hasil antara pada proses hidrolisis amilum serta warna yang terjadi pada reaksi dengan iodium.

SIFAT KIMIA
a. Reaksi Fehling
Pereaksi ini dapat direduksi selain oleh karbohidrat yang mempunyai sifat mereduksi, juga dapat direduksi oleh reduktor lain. Pereaksi fehling terdiri atas dua larutan, yaitu larutan fehling A dan larutan fehling B. larutan fehling A adalah larutan Cu SO4 dalam air, sedangkan larutan fehling B ialah larutan garam KNatartrat dan NaOH dalam air.kedua macam larutan ini disimpan terpisah dan baru dicampur menjelang digunakan untuk memeriksa suatu karbohidrat.dalam pereaksi ini ion Cu++ direduksi menjadi ion-ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan sebagai Cu2O.
2 Cu+ +2 OH- Cu2O + H2O
  Endapan
Dengan larutan glukosa 1% pereksi fehling menghasilkan endapan berwarna merah bata sedangkan apabila digunakan larutan yang lebih encer misalnya larutan glukosa 0,1%, endapan yang terjadi berwarna hijau kekuningan.
b. Pereaksi Benedict
Pereaksi ini berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan natriumsitrat. Glukosa dalam mereduksi ion Cu++ dari kuprinatrium menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat pereaksi benedict bersifat basa lemah. Endapan yang terbentuk berwarna kuning, hijau, atau merah bata.
Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa. Pereaksi benedict lebih banyak digunakan untuk pemeriksaan glukosa dalam urine daripada pereaksi fehling karena beberapa alasan. Apabila dalam urine terdapat asam urat atau kreatinin kedua senyawa ini dapat mereduksi pereaksi fehling, tetapi tidak dapat mereduksi pereaksi benedict. Disamping itu pereaksi benedict lebih peka daripada pereaksi fehling. Penggunaan pereaksi benedict juga lebih mudah karena hanya terdiri atas satu macam larutan, sedangkan pereaksi fehlingterdiri atas dua macam larutan.

B. Alat dan Bahan
Uji Iodium
Alat Bahan
• Plat 6 lubang
• Pipet tetes
• Lumpang & alu • Kentang masak dan mentah
• Sngkong masak dan mentah
• Beras dan Nasi
• Umbi masak dan mentah
• Roti Tawar
• Pisang



Uji Benedict
Alat Bahan
• Blender
• Pipet tetes
• Tabung reaksi
• Penjepit tabung reaksi
• Pembakar spirtus • Sari buah tomat
• Susu kental manis
• Air jeruk
• Sari buah nanas
• Sari buah jeruk
• Sari buah timun
• Larutan gula
• Larutan Benedict

C. Cara Kerja
Uji Iodium
Siapkan kentang, singkong, beras, roti tawar, pisang, dan umbi

Haluskan bahan makanan tersebut, letakkan pada palet 6 lubang

Teteskan larutan lugol pada masing-masing bahan makanan

Amati perubahan warna yang terjadi

Catat dari hasil percobaan yang dilakukan

Buat kesimpulan dari percobaan yang anda lakukan

Uji benedict
Siapkan bahan makanan yang akan di uji

Masukan 5-10 tetes bahan makanan tersebut ke dalam tabung reaksi, beri tanda untuk masing-masing bahan

Teteskan 5 tetes larutan benedict ke dalam setiap tabung reaksi, kocok pelan-pelan.

Panaskan tabung reaksi tersebut diatas pembakar spirtus, gunakan penjepit agar tidak panas

Amati perubahan warna yang terjadi pada tiap tabung

Masukan data yang telah diperoleh ke dalam tabel

Bandingan perubahan warna

Buat kesimpulan

D. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Tes Iodiun
No Bahan Makanan Jumlah Tetesan Warna yang dihasilkan
  Mentah Matang
1 Beras 5 Tetes Ungu Ungu
2 Singkong 5 Tetes Ungu Biru
3 Kentang 5 Tetes Ungu Biru
4 Ubi 5 Tetes Merah bata kecoklatan Merah kecoklatan
5 Pisang 5 Tetes Tidak berubah warna Tidak berubah warna
6 Roti Tawar 5 Tetes Coklat -


 
(a) Bahan makanan mentah (b) Bahan makanan matang
Gambar 1. Bahan makanan yang ditetesi Iodium

Tabel 2. Hasil Pengamatan Tes Benedict
No. Bahan Makanan Jumlah Tetesan Warna yang dihasilkan
  Bahan Makanan Tetesan Benedict Sebelum Sesudah
1 Sari buah tomat 10 Tetes 5 tetes - Orange kemerahan
2 Sari Buah nanas 10 Tetes 5 tetes hijau kuning
3 Sari buah mentimun 10 Tetes 5 tetes hijau kuning
4 Air perasan jeruk 10 Tetes 5 tetes hijau Orange kemerahan
5 Susu kental manis 10 Tetes 5 tetes Biru muda kuning
6 Larutan gula 10 Tetes 5 tetes Biru Hijau toska

 
(a) (b) (a) (b)
  Larutan gula Larutan Jeruk

 
  (a) (b) (a) (b)
  Larutan Nanas Larutan Susu

 
  (a) (b) (b)
  Larutan Timun Larutan Tomat
Gambar 2. Bahan makanan yang ditetesi Benedict

Keterangan : (a) sebelum dipanaskan; (b) sesudah di panaskan

E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dari percobaab Tes Iodium, dapat disimpulkan bahwa adanya perubahan warna pada tes iod, disebabkan karena adanya hasil ikatan kompleks anatara amilum dengan Iodium. Jadi semua bahan makanan yang mengandung karbohidrat/amilum akan berubah warna jika direaksikan dengan Iodium baik itu berwarna biru, maupun warna yang lain seperti merah bata.
Sedangkan pada hasil pengamatan dari percobaan Tes Benedict dapat disimpulkan bahwa semua larutan glukosa yang dipanaskan setelah diteteskan pada reagen benedict akan member warna kehijauan, denagan demikian glukosa mengandung gula pereduksi. Larutan tembaga alkalis pada reagen Benedict bila direaksikan dengan karbohidrat akan terjadi reduksi membentuk oksida (CU2O) yang ditandai dengan warna kehijauan.

F. Daftar Pustaka
• Almatsier, Sunita. 2004.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.
• Fessenden, Ralph J. dan Joan S. Pessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta: Binakarya
• Pratama, Crys Fajar, dkk. 2003. Kimia Dasar 2. Malang: UM-Press
• Supriyanti, Titin, dkk. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
• Wahjudi, dkk. 2003. Kimia Organik II. Malang: UM-Press.
• http://labdasar.trunojoyo.ac.id/buku%20biokimia.pdf:27-09-2009















Praktikum Ke-3
TES BIURET

Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2010
Tujuan Praktikum : Mengetahui kandungan protein pada bahan makanan

A. Prinsip
Kupri sufat (CuSO4) dalam suasana basa bereaksi dengan senyawa yang mengandung dua ikatan peptida atau lebih memberikan senyawa kompleks berwarna ungu. Keadaan warna ungu menunjukan jumlah ikatan peptide dalam protein. Reaksi menunjukan hasil positif terhadap dua senyawa yang mengandung dua gugus karbonil yang dihubungkan melalui satu atom N dan C.

B. Landasan Teori
Kata protein berasal dari protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau manusia. Oleh karena sel itu merupaka pembentuk tubuh kita, maka protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuha tubuh (Anna Poedjadi, dkk., 2005:81).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa selain polisakarida, lipid dan polinukleotida yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein itu sendiri mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitroge dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein dirumuskan oleh Jons Jakob Berzelius pada tahun 1938.
Dr. Rose membedakan asam amino kedalam tiga golongan, yaitu:
1) Asam Amino Esensial
Asam amino esensial merupakan asam amino yang harus didatangkan dari luar tubuh manusia karena sel-sel tubuh tidak dapat mensintesisnya. Macam-macam asam amino esensial terdiri dari isoleusin, leusin, lisin, metonin, fenilalanin, treonin, valin, dan triptofan.
2) Asam Amino Semiesensial
Asam amino semiesensial merupakan asam amino yang dapat menghemat pemakaian beberapa asam amino esensial. Macam-macam asam amino semiesensial terdiri dari arginin*, histidin*, sistin, glisin, serin, dan tirosin.
Keterangan: * = esensial pada anak-anak. Macam-macam asam amino nonesensial terdiri dari alanin, asparagin, asam asparat, asam glutamate, glutamine, dan prolin.

3) Asam Amino Nonesensial
Asam amino nonnesensial merupakan asam amino yang dapat disintesis di dalam tubuh manusia dengan bahan baku asam amino lainnya.
Struktur protein ada 4 tingkatan yaitu :
a. Struktur primer menunjukkan jumlah, jenis dan urutan asam amino dalam molekul protein (rentetan asam amino dalam suatu molekul protein)
b. Struktur sekunder menunjukkan banyak sifat suatu protein, ditentukan oleh orientasi molekul sebagai suatu keseluruhan, bentuk suatu molekul protein (misalnya spiral) dan penataan ruang kerangkanya (ikatan hidrogen antara gugus N-H, salah satu residu asam amino dengan gugus karbonil C=O residu asam yang lain)
c. Struktur tersier menunjukkan keadaan kecenderungan polipeptida membentuk lipatan tali gabungan (interaksi lebih lanjut seperti terlipatnya kerangka untuk membentuk suatu bulatan)
d. Struktur kuartener menunjukkan derajat persekutuan unit-unit protein.
Ditinjau dari strukturnya, protein dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu:
a. Protein sederhana yang merupakan protein yang hanya terdiri atas molekul-molekul asam amino
b. Protein gabungan yang merupakan protein yang terdiri atas protein dan gugus bukan protein. Gugus ini disebut gugus prostetik dan terdiri atas karbohidrat, lipid atau asam nukleat.
Protein sederhana menurut bentuk molekulnya dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
a. Protein fiber. Molekul protein ini terdiri atas beberapa rantai polipeptida yang memanjang dan dihubungkan satu sama lain oleh beberapa ikatan silang hingga merupakan bentuk serat atau serabut yang stabil. Protein fiber tidak larut dalam pelarut-pelarut encer, baik larutan garam, asam, basa ataupun alkohol. Berat molekulnya yang besar belum dapat ditentukan dengan pati dan sukar dimurnikan. Kegunaan protein ini hanya untuk membentuk struktur jaringan dan bahan, contohnya adalah keratin pada rambut.
b. Protein globular. rotein globular pada umumnya berbentuk bulat atau elips dan terdiri atas rantai polipeptida yang terlibat. Protein globular/speroprotein berbentuk bola, protein ini larut dalam larutan garam dan asam encer, juga lebih mudah berubah di bawah pengaruh suhu, konsentrasi asam dan asam encer. Protein ini mudah terdenaturasi. Banyak terdapat pada susu, telur dan daging.
Reaksi-reaksi kahas pada protein (uji kualitatif):
a. Reaksi Ninhidrin. Ninhidrin beraksi dengan asam amino bebas pada protein menghasilkan warna biru. Reaksi ini termasuk yang paling umum dilakukan untuk analisis kualitatif protein dan produk hasil hidrolisisnya. Reaksi ninhidrin dapat pula dilakukan terhadap urin untuk mengetahui adanya asam amino atau untuk mengetahui adanya pelepasan protein oleh cairan tubuh.
b. Reaksi Biuret. Bila larutan protein dalam suasana basa kuat direaksikan dengan larutan CuSO4 pekat, akan dihasilkan warna ungu. Warna yang dihasilkan dari reaksi tersebut disebabkan oleh ikatan koordinasi antara ion Cu2+ dengan pasangan elektron bebas dari N yang berasal dari protein dan pasangan elektron bebas dari O molekul air. Reaksi ini tidak berlaku untuk peptida.
c. Reaksi Uji Millon untuk Tirosin. Reagen Millon adalah larutan asam nitrat yang mangandung raksa (I) nitrat dan raksa (II) nitrat. Bila reagn millon dicampurkan dengan larutan yang mengandung protein akan terbentuk endapan putih yang akan berubah merah bila dipanaskan.
d. Uji Penetralan Titik Isoelektrik. Titik isoelektrik adalah daereah pH tertentu diman protein mempunyai selisih muatan, sehingga tidak bergerak dalam muatan listrik.
(http://74.125.153.132/search?q=cache:NyW4xHTsMKIJ:signaterdadie.wordpress.com/2009/10/05/protein/+uji+biuret+pada+protein&cd=15&hl=id&ct=clnk&gl=id)
Sintesis protein
Dari makanan kita memperoleh Protein. Di sistem pencernaan protein akan diuraikan menjadi peptid peptid yang strukturnya lebih sederhana terdiri dari asam amino. Hal ini dilakukan dengan bantuan enzim. Tubuh manusia memerlukan 9 asam amino. Artinya kesembilan asam amino ini tidak dapat disintesa sendiri oleh tubuh esensiil, sedangkan sebagian asam amino dapat disintesa sendiri atau tidak esensiil oleh tubuh. Keseluruhan berjumlah 21 asam amino. Setelah penyerapan di usus maka akan diberikan ke darah. Darah membawa asam amino itu ke setiap sel tubuh. Kode untuk asam amino tidak esensiil dapat disintesa oleh DNA. Ini disebut dengan DNAtranskripsi. Kemudian mRNA hasil transkripsi di proses lebih lanjut di ribosom atau retikulum endoplasma, disebut sebagai translasi.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Protein)
Fungsi protein didalam tubuh sangat erat hubungannya dengan hayat hidup sel. Adapun fungsi dari protein yaitu:
• Sebagai zat pembangun.
• Berfungsi dalam pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan.
• Sebagai badan-badan anti, protein berfungsi dalam mekanisme pertahanan tbuh melalui berbagai mikroba dan zat toksin lain.
• Mengatur proses-proses metabolism dalam tubuh enzim dan hormon.
• Sebagai sumber utama energy bersam-sama dengan karbohidrat dan lemak.
• Dalam bentuk kromosom protein juga berperan dalam menyimpan dan meneruskan sifat-sofat keturunan dalam bentuk gen. (Achmad Djaeni S, 1991: 73)

Tabel 1. Sumber-sumber protein (Achmad Djaeni S, 1991)
No. Bahan Makanan Kadar Protein (%)
1 Daging ayam 18,2
2 Daging sapi 18,8
3 Telur ayam 12,8
4 Susu sapi segar 3,2
5 Keju 22,8
6 Bandeng 20,0
7 Udang segar 21,0
8 Kerang 8,0
9 Beras tumbuk merah 7,9
10 Beras giling 6,8
11 Kacang hijau 22,2
12 Kedelai basah 30,2
13 Tepung terigu 8,9
14 Jagung kuning (butir) 7,9
15 Pisang abon 1,2
16 Durian 2,5

Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida.
Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning.
  Protein mengandung asam amino berinti benzen, jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan warnanya akan berubah menjadi lebih tua atau jingga. Rekasi ini didasarkan pada uji nitrasi inti benzena yang terdapat pada mulekul protein menjadi senyawa intro yang berwarna kuning
Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein.
 Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya.
Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol.
(http://74.125.153.132/search?q=cache:6Y1Qc8Vs4jAJ:images.arifqbio.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SGgAygoKCnAAAC8kyV01/protein%2520edited.doc%3Fnmid%3D103380315+uji+biuret+pada+protein&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id)
Banyak protein mengandung sulfur. Mereka kompleks dengan molekul yang terdiri dari karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Asam amino adalah hasil dari blok ini protein dan mereka terhubung oleh ikatan peptida. Ada banyak kesamaan antara asam amino dan molekul biuret dan keduanya bereaksi dengan cara yang sama. Reagen Biuret biru muda solusi, yang berubah menjadi ungu jika dicampur dengan larutan yang mengandung protein. Sebuah kompleks warna ungu terbentuk ketika ion tembaga dari Reagent Biuret bereaksi dengan ikatan peptida pada rantai polipeptida.
Karena protein dibuat dari asam amino, kehadiran ikatan-ikatan peptida selama uji Biuret protein akan selalu memberikan hasil positif untuk semua jenis makanan berbasis protein.
(http://www.scumdoctor.com/Indonesian/nutrition/protein/Biuret-Test-For-Proteins.html)


Pembuatan reagen biuret:
Larutkan 150 mg tembaga (II) sulfat (CuSO4. 5H2O) dan kalium natrium tartrat (KNaC4H4O6. 4H2O) dalam 50 ml aquades dalam labu takar 100 ml. Kemudian tambahkan 30 ml natrium hidroksida 10% sambil dikocok-kocok, selanjutnya tambahkan aquades sampai garis tanda.
(http://mgmpkimiasumbar.wordpress.com/2009/02/11/reaksi-analisa-protein/)

C. Alat dan Bahan
Alat Bahan
• Tabung reaksi
• Pipet tetes
• Rak tabung reaksi
• Bekker glass
• Batang pengaduk
• Lumpang & alu • Bahan Makanan (tahu, tempe, ikan mas, putih telur, kuning telur, daging ayam, daging sapi, dan kacang kedelai)
• Larutan Buiret (NaOH 5% & larutan CuSO4 1%)
• Aquadest

D. Cara Kerja
Siapkan bahan makanan yang akan diuji dalam bentuk cairan
(bahan padat dilumatkan terlebih dahulu)

@bahan dimasukan dalam tabung reaksi, beri label

Teteskan larutan Biuret (± 5 tetes)

Kocok perlahan-lahan

Amati perubahan warna yang terjadi

Masukkan data kedalam tabel pengamtan

Simpulkan berdasarkan hasil pengamatan

E. Hasil Pengamatan
No. Zat makanan Jumlah tetesan Warna yang terjadi Tingkat Intensitas
  Sebelum Sesudah
1 Tahu 3 tetes Kuning Orange-crame -
2 Tempe 3 tetes Putih Putih -
3 Kacang kedelai 3 tetes Putih Putih keabuan -
4 Ikan 3 tetes Putih Ungu +4
5 Putih telur 3 tetes Putih-bening Ungu +2
6 Kuning telur 3 tetes Kuning Kuning -
7 Daging ayam 3 tetes Putih Ungu +3
8 Daging sapi 3 tetes Merah Coklat keunguan +1
Keterangan :
• Semakin banyak tanda plusnya (+) maka kandungan protein semakin tinggi.
• Tanda (-) bukan menunjukan bahan makanan tersebut tidak mengandung protein tetapi tetapi termasuk kedalam protein legumin.

Gambar 1. Hasil Pengamatan Pada Tes Biuret

F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diatas pada praktikum “Tes Biuret”, zat makanan yang mengandung protein berubah warna setelah ditetesi oleh biuret, warna yang dihasilkannya berupa warna ungu. Zat makanan yang mengandung protein berdasarkan hasil pengamatan yaitu ikan, putih telur, daging ayam, dan daging sapi. Karena pada umumnya protein hewani adalah protein yang sempurna, maksudnya protein yang mengandung asam-asam amino esensial lengkap, baik macam maupun jumlahnya. Ke empat zat makanan tersebut (ikan, putih telur, daging ayam, dan daging sapi) memiliki kandungan protein yang berbeda-beda hal ini dapat dilihat dari indikasi intensitas warna yang dihasilkan dari masing-masing zat makanan. Semakin banyak tanda (+)-nya maka kandungan protein itu semakin besar / banyak, sedangkan semakin sedikit tanda (+)-nya maka kandungan proteinnya pun semakin dikit pula. Pada ikan memiliki kandungan protein yang tinggi karena warna ungu yag dihasilkan sangat pekat sehingga intensitas warnanya +4, sedangkan pada daging sapi intensitas warnanya +1 karena wrna yang dihasilkannya coklat keunguan.
Pada kuning telur tidak selalu sama kandungannya dengan putih telur. Kuning telur setelah di tes oleh larutan biuret ternyata tidak menghasilkan perubahan warna, warnanya tetap kuning tetapi menjadi menggumpal, hal ini terjadi karena pada kuning telur mengandung lemak bukan protein.
Pada zat makanan seperti tahu, tempe, dan kacang kedelai tidak menghasilkan warna ungu tetapi berturut – turut menghasilkan warna crame, putih, dan putih keabuan. Hal ini karena pada tahu, tempe, dan kacang kedelai termasuk kedalam protein legumin. Protein legumin termasuk kedalam protein kurang sempurna, maksudnya walaupun termasuk kedalam kedalam protein yang mengandung asam amino esensial lengkap, tetapi beberapa diantaranya jumlahnya sedikit.

G. Daftar Pustaka
• Djaeni S, Achmad. 1991. Ilmu Gizi Untuk Profesi dan Mahasiswa. Jakarta: Dian Rakyat.
• Poedjadi, Anna., dkk. 2005. Biokimia. Jakarta: UI-Press.
• Supriyanti, titin, dkk. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
• http://arifqbio.blogspot.com/proteinedited.doc/uji+biuret+pada+protein
• http://signaterdadie.wordpress.com/2009/10/05/protein/+uji+biuret+protein.
• http://www.scumdoctor.com/Indonesian/nutrition/protein/Biuret-Test-For-Proteins.html
• http://mgmpkimiasumbar.wordpress.com/2009/02/11/reaksi-analisa-protein/
• http://id.wikipedia.org/wiki/Protein
Praktikum Ke-4 & 5
UJI LEMAK DAN PENCERNAAN LEMAK

Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2010
Tujuan Praktikum : - Mengetahui kandungan lemak pada bahan makanan
- Mengamati Pengaruh empedu terhadap lemak

A. Landasan Teori
Lemak (fat) merupakan sekelompok besar molekul-molekul alam yang terjadi atas unsure-unsur karbon, hydrogen, dan oksigen, meliputi asam lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (contoh A, D, E, dan K), monoglisakarida diglisarida, fospolipid, glikolipid dan terpenoid.
(http://id.wikipedia.org/wiki/lemak.html)
Menurut ahmad Djaeni (1991:89) lemak adalah ikatan organel yan terdiri dari atas unsur-usur (C),(H) dan(O) yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat-zat pelarut tertentu dalam pelarut lemak, seperti petroleum, benzene, ether, lemak yang mempunyai titik lebur tinggi bersifat padat pada suhu kamar, sedangkan yang mempunyai titik lebur rendah, bersifat cair. Lemak yang padat pada suhu kamar disebut lemak / gaji, sedangkan yang cair pada suhu kamar disebut minyak (Ahmad Djaeni, 1991).
Karena struktur molekulya yang akan kaya rantai unsure karbon (-CH2-CH2-CH2) maka lemak mempunyai sifat hidroplob ini menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya lemak untuk larut didalam air. Lemak dapat larut hanya dilarutkan yang apolar atau organic seperti eter,chloroporm atau benzol
Lipid atau trigliserida merupakan bahan bakar utama hampir semua organisme disamping karbohidrat. Trigliserida adalah triester yang terbentuk dari gliserol dan asam-asam lemak. (http://www.rismaka.net/2009/06/uji-lipid.html)

Gambar 1. Struktur Asam Lemak
Sifat lemak / minyak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27°C). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut. Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak. Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan "Z", singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan "E", singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus. Ketengikan (Ingg. rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini.
(http://agusnurul.blogspot.com/2009/05/lap-biokim-uji-lemakminya.html)
Berdasarkan komposisi kimianya lemak dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1) Lemak Sederhana
Lemak sederhana merupakan lemak yang mengandung asam-asam lemak yang sama sebagai penyusunnya. Penyusunnya terdiri atas trigliserida (1gliserol + 3 asam lemak). Contoh: lemak, lilin, malam (padat pada suhu kamar), minyak (cair pada suhu kamar).
2) Lemak Campuran
Lemak campuran mengandung dua atau tiga jenis asam lemak yang berbeda. Penyusunnya adalah lemak dengan senyawa bukan lemak: fosfat, protein, glukosa. Contoh: fosfolopid, fosfatid (lemak + fosfat + kolin), lipoprotein.


3) Derivat Lemak
Penyusun derivat lemak berasal dari derivate lemak. Contoh derivate lemak: asam lemak, gliserol, sterol, golongan keton (ex: kolesterol) .

Berdasarkan ikatan kimianya asam lemak dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Asam Lemak Jenuh
Asam lemak ini bersifat non-esensial (dapat disintesis sendiri), bersifat padat pada suhu kamar. Contoh: lemak hewani (mentega, gajih), asam stearat, dan asam palmitat.
2) Asam Lemak Takjenuh
Asam lemak takjeuh bersifat esensial (tidak dapat disintesis sendiri), bersifat cair pada suhu kamar. Contoh: lemak nabati (minyak jagung dan kedelai), asam linoleat, asam linolenat, dan asam arakhidonat.
(http://www.rismaka.net/2009/06/uji-lipid.html)

Fungsi lemak begitu banyak fungsi dari lemak itu sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut:
a) Sebagai Pembangun Sel
Lemak adalah bagian penting dari membran yang membungkus setiap sel di tubuh kita. Tanpa membran sel yang sehat, bagian lain dari sel tidak dapat berfungsi.
b) Sumber Energi
Lemak adalah makanan sumber energi yang paling efisien. Setiap gram lemak menyediakan 9 kalori energi, sedangkan karbohodrat dan protein memberi 4 kalori. Melindungi organ. Banyak organ vital seperti ginjal, jantung, dan usus dilindungi oleh lemak dengan memberinya bantalan agar terhindar dari luka dan menahan agar tetap pada tempatnya.
c) Pembangun Hormon
Lemak adalah unsur pembangun sebagian senyawa terpenting bagi tubuh, termasuk prostaglandin, senyawa semacam hormon yang mengatur banyak fungsi tubuh. Lemak mengatur produksi hormon seks.

d) Pembangun Otak
Lemak menyediakan komponen penyusun tidak hanya bagi membran sel otak, tapi juga myelin, 'jaket' lemak yang menyelimuti tiap serat syaraf, yang (http://agusnurul.blogspot.com/2009/05/lap-biokim-uji-lemakminya.html)

Pencernaan lemak
Lemak di dalam bahan makanan tidak mengalami pencernaan di dalam rongga mulut, karena tidak ada enzim yang dapat memecahnya. Didalam gaster ada enzim lipase, tetapi pengaruhnya terhadap pemecahan lemak dapat di abaikan, karena rendah sekali; PH di dalam gaster tidak cocok untuk aktifitas lifase tersebut di dalam duodenum lemak dipecah oleh enzim lipase yang berasal dari sekresi pangkreas.triglieserida dipecah menghasilkan campuran metabolit di dan monogliserida serta asam lemak bebas. Asam lemak dengan rantai karbon panjang tidak larut dalam air, tetapi membuat ikatan kompleks dengan garam empedu yang membuatnya menjadi dapat larut (emulsi). Asam lemak rantai karbon pendek dan intermediate tidak mudah diserap melalui dinding epitel saluran pencernaan.
Sekresi saluran empedu dari hati tidak mengandung enzim untuk memecah lemak, tetapi mengandung garam-garam empedu yang mengemulsikan lemak, dan asam lemak hasil pencernaan, menjadi butir-butir halus yang dapat menebus epitel usus masuk kedalam limpe jaringan.
Tabel 1. Ringkasan proses pencernaan lemak/lipida
No. Saluran Pencernaan Proses pencernaan
1 Mulut Mengunyah, mencampur dengan air ludah dan ditelan. Kelenjar ludah mengeluarkan enzim lipase lingual.
2 Esofagus Tidak ada pencernaan.
3 Lambung Lipase lingual dalam jumlah terbatas memulai hidrolisis trigliserida menjadi digliserida dan asam lemak. Lemak susu lebih banyak terhidrolisis. Lipase lambung menghidrolisis lemak dalam jumlah terbatas.
4 Usus halus Asam empedu mengemulsi lemak. Lipase berasal dari pancreas dan dinding usus halus menghidrolisis lemak dalam bentuk emulsi menjadi digliserida, gliserol dan asam lemak. Fosfolipase berasal dari pancreas menghidrolisis fosfolipida menjadi asam lemak dan lisofosfogliserida. Kolesterol esterase berasal dari pancreas menghidrolisis ester kolesterol.
5 Usus besar Sedikit lemak dan kolesterol yang terkurung dalam serat makanan, dikeluarkan melalaui feses.
(Sunita Almatsier, 2009: 65)

B. Alat dan Bahan
1. Uji Lemak
Alat Bahan
- Kertas Minyak / kertas HVS / kertas buram
- Lumpang dan alu - Mentega
- Margarine
- Kacang tanah
- Kelapa utuh
- Santan kelapa
- Kara (santan)
- Kemiri
- Susu bubuk
- Minyak goring
- Kentang

2. Uji Pencernaan Lemak
Alat Bahan
- 2 bh tabung reaksi
- Batang pegaduk
- Pipet tetes - Empedu Ikan
- Minyak kelapa

C. Langkah Kerja
1. Uji Lemak
Siapkan bahan makanan yang akan diuji
bila berupa biji-bijian/bahan padat ditumbuk terlebih dahulu (alat penumbuk)

letakkan bahan tersebut pada cawan petri atau plat tetes

Oleskan bahan makanan pada kertas buram

Angin-anginkan dan amati apa yang terjadi

Buat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan

2. Uji Pencernaan Lemak
Masukkan minyak kedalam tabung reaksi setinggi 2 mm

Pecahkan empedu & masukkan kedalam tabung reaksi B

Tetskan cairan empedu kedalam tabung reaksi yang berisi minyak kelapa
(5-6 tetes), sambil diaduk

Amati apa yang terjadi

D. Hasil Pengamatan
1. Uji Lemak
No. Bahan Makanan Ada Tidaknya Lemak Intensitas
1 Mentega + +5
2 Margarine + +4
3 Kacang tanah + +2
4 Kelapa “biasa” + +1
5 Kelapa “santan” + +2
6 Kara (santan) + +1
7 Kemiri + +3
8 Susu bubuk - -
9 Minyak goreng + +6
10 Kentang - -


Gambar 1. Hasil Pengamatan Pada Uji Lemak

2. Uji Pencernaan Lemak
Perubahan yang terjadi pada saat mengamati pengaruh empedu terhadap lemak dengan menggunakan minyak yaitu pada minyak kelapa yang dikasih cairan empedu ikan terjadi perubahan warna dan adanya endapan yang berwarna kuning kecoklatan, cairan empedu tersebut larut ( menyatu )dengan minyak.Berbeda saat percobaan lain ,mencoba membandingkan antara minyak dengan air tidak larut.Warna minyak yang dikasih cairan empedu juga menampakan perubahan yaitu kuning kehijauan.

E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pada uji lemak, ternyata dari beberapa bahan makanan yang kita uji ada yang mengandung lemak dan ada juga yang tidak mengandung lemak. Bahan makanan yang tidak mengandung lemak adalah susu bubuk dan kentang, sisanya mengandung lemak. Kandungan lemak dari setiap bahan makanan yang mengandung lemak memiliki tingkat kandungan lemak yang berbeda-beda antara bahan makanan yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada tingkat transparansinya. Semakin banyak tanda (+)-nya maka kandungan lemak itu semakin banyak, sedangkan semakin sedikit tanda (+)-nya maka kandungan lemak itu semakin sedikit.
Sedangkan pada uji Pencernaan Lemak, peru bahan yang terjadi pada minyak ynag diberi cairan empedu 5-6 tetes mengalami perubahan warna dan adanya endapan yang berwarna kuning keoklatan serta cairan empedu dengan minyak tersebut menjadi satu (larut), berbeda jika dibandingkan antara minyak dengan air hasilnya tidak larut. Warna minyak yang diberi cairan empedu juga menampakan adanya perubahan.

F. Daftar Pustaka
• Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.
• Djaeni S, Achmad. 1991. Ilmu Gizi Untuk Profesi dan Mahasiswa. Jakarta:
  Dian Rakyat.
• Poedjadi, Anna., dkk. 2005. Biokimia. Jakarta: UI-Press.
• http://agusnurul.blogspot.com/2009/05/lap-biokim-uji-lemakminya.html
• http://www.rismaka.net/2009/06/uji-lipid.html
• http://id.wikipedia.org/wiki/lemak.html

Praktikum Ke-6
UJI VITAMIN C

Tanggal Praktikum : 25 Oktober 2010
Tujuan Praktikum : Mengetahui kandungan Vitamin C pada berbagai buah.

A. Landasan Teori
Pada permulaan abad XX, EIJKMAN dan rekan-rekannya menemukan adanya zat-zat yang diperlukan oleh tubuh yang kemudian diberi nama vitamine oleh VLADIMIR FUNK karena disangka suatu ikatan organic amine oleh adanya unsure N dan telah dikenalinya asam amino pada saat itu. Zat vitamin ini diperlukan untuk kehidupan (Vita). Sehingga diberi nama Vitamine.
Fungsi vitamin secara umum berhubungan erat dengan fungsi enzim, terutama vitamin-vitamin kelompok B. enzim merupakan katalisator organic yang menjalankan dan mengatur reaksi-reaksi biokimiawi di dalam tubuh.
Vitamin C (asam askorbat)
 Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang masuk kedalam kelompok vitamin-vitamin yang larut air dan tidak larut dalam minyak dan zat-zat terlarut lemak. Akantetapi merupakan kelas tersendiri, tidak satu kelompok dengan vitamin B-Kompleks.
Fungsi vitamin C didalam proses metabolisme belum jelas, akantetapi fungsi vitamin C didalam tubuh bersangkutan dengan sifat alaminya sebagai anti oksidans. Fungsi fisiologis yang telah diketahui memerlukan vitamin C ialah:
• Kesehatan substansi matriks jaringan ikat
• Integritas epithel melalui kesehatan zat perekat antar sel
• Kesehatan epithel pembuluh darah
• Penurunan kadar kolesterol dan
• Diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan gigi-geligi.
Vitamin C berbentuk Kristal putih, merupakan suatu asam organic dan terasa asam tetapi
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6. Dalam bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-192oC. bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau alcohol yang mempunyai berat molekul rendah.
http://btagallery.blogspot.com/2010/03/pengujian-buah-buahan-dan-sayuran.html
Vitamin C tergolong asam dan sangat sentsitif terhadap pemanasan, bahkan pemanasan yang tergolong ringan. Vitamin C juga sensitive terhadap sinar, senyawa oksidator seperti yodium, hydrogen peroksida dll. Dan logam (besi, dll). Vitamin C mudah terosidasai terutama bila terlarut dalam pelarut (air misalnya). Vitamin C teroksidasi dalam larutan oleh oksigen dengan memberikan 2 elektron pada senyawa oksidator. http://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin_C
Vitamin C sukar larut dalam chloroform, ether, dan benzene. Pada pH rendah vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi, lebih-lebih apabila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar, temperatur yang tinggi.vitamin C atau asam askorbat dikenal perananny dalam menjaga dan memperkuat imunitas terhadap infeksi. Pada beberapa penelitian lanjutan ternyata vitamin C juga telah terbukti berperan penting dalam meningkatkan kerja otak. Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan. Buah jeruk, salah satu sumber vitamin C terbesar.
Simonbwidjanarko.wordpress.com
Vitamin c juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan, vitamin c mampu menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh. Melalui pengaruh pencahar, vitamini ini juga dapat meningkatkan pembuangan feses atau kotoran. Vitamin C juga mampu menangkal nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi Massachusetts menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan makanan yang mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin C berkurang sampai 81%. Prestasiherfen.blogspot.com



B. Alat dan Bahan
Alat Bahan
• Rak tabung reaksi
• Tabung reaksi
• Pipet tetes
• Gelas ukur
• Gelas kimia
• Pembakar spirtus (Bunsen)
• Penjepi • Larutan vit. C 0.1 %
• Larutan amilum iodide
• Sari buah stroberi
• Sari buah tomat
• Sari buah jambu batu
• Sari buah alpukat
• Sari buah mangga
• Sari buah melon
• Kanji
• Tablet Vit. C (putih)

C. Cara Kerja
6 buah tabung reaksi
(isi 1 ml larutan amilum iodide)

Teteskan air ke dalam gelas ukur
I ml (hitung berapa tetes)

Teteskan Lar. Vit. C ke tabung pertama
Sampai hilang (hitung berapa tetes)

Dengan cara diatas lakukan perlakuan yang sama untuk semua macam-macam sari buah

Didihkan larutan Vit. C dan sari buahnya selidiki kandungan Vit. C

Hitung kandungan Vit. C yang dipanaskan atau tidak
(catat pada table)

D. Hasil Pengamatan
No. Bahan Makanan Jumlah tetesan yang diperlukan untuk menetralkan amilum iodide Kandungan Vi. C per ml
  Tidak dipanaskan Dipanaskan
1. Larutan Tablet vit C 30 tetes 45 tetes 2.5 ml
2. Sari tomat 90 tetes 80 tetes 7.5 ml
3. Sari strawberi 230 tetes 200 tetes 19.2 ml
4. Sari jambu batu 50 tetes 40 tetes 4.2 ml
5. Sari alpukat 120 tetes 150 tetes 10 ml
6. Sari mangga 80 tetes 282 tetes 6.7 ml
7. Sari melon 182 tetes 400 tetes 15.17 ml

E. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan di atas dapat disimpulkan bahwa bahan makanan yang diuji memiliki kandungan vitamin C yang berbeda-beda satu sama lain. Jumlah tetesan vitamin antara yang dipanaskan dan yang tidak dipanaskan hasilnya berbeda, hal ini dikarenakan kandungan vitamin pada bahan makanan yang telah dipanaskan kandung Vitamin C nya berkurang. Dengan demikian zat sari-sari makanan yang memiliki tetesan yang paling sedikit berarti memiliki kandungan vitamin C yang banyak. Dalam hal ini terdapat pada sari jambu batu dan larutan Vitamin C.

F. Daftar Pustaka
• Djaeni S, Achmad. 1991. Ilmu Gizi Untuk Profesi dan Mahasiswa. Jakarta: Dian Rakyat.
• Ngili, Yohanis. 2009. Biokimia Metabolisme & Bioenergitika. Yogyakarta: Graham ilmu.
• Poedjadi, Anna., dkk. 2005. Biokimia. Jakarta: UI-Press.
• Supriyanti, titin, dkk. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
• Toha, Abdul Hamid. Tanpa tahun. Metabolisme Biomolekul. Bandung:
Alfabeta.
• http://btagallery.blogspot.com/2010/03/pengujian-buah-buahan-dan-sayuran.html
• http://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin_C
• Simonbwidjanarko.wordpress.com
• Prestasiherfen.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Poskan Komentar