AVES

Nama kelas “Aves” berasal dari bahasa Latin yang berarti burung. Ilmu yang mempelajari burung Ornithologi yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ornis”. Diperkirakan terdapat sekitar 8.800 – 10.200 spesies burung di seluruh dunia; sekitar 1.500 jenis di antaranya ditemukan di Indonesia.

2.1 Karakteritik Aves
Hewan aves memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Tubuh ditutupi bulu.
b. Memiliki dua pasang anggota tubuh; dua anggota tubuh depan di modifikasi menjadi sayap yang digunakan untuk terbang; dua anggota tubuh belakang di modifikasi untuk berjalan, bertengger, atau berenang; setiap kaki dilengkapi dengan empat jari; kaki dan jari ditutupi kulit yang mengalami kornifikasi.
c. Skeleton tersusun atas tulang sejati; mulut dilengkapi paruh dengan zat tanduk; tidak memiliki gigi (kecuali unggas yang sudah punah); tengkorak dengan satu lobus occipital; leher sangat fleksibel; pelvis menglami fusi dengan beberapa vertebrata dan terbuka ke bagian ventral; sternum membesar; vertebrata ekor pendek dan mengecil kearah posterior.
d. Jantung terdiri dari empat ruangan (2 serambi dan 2 bilik terpisah sempurna); hanya terdapat aorta kanan; sel darah merah berbentuk oval bikonveks dan memiliki nukleus.
e. Respirasi menggunakan paru-paru yang melekat ke rusuk dan dilengkapi dengan kantung udara tipis yang memanjang di antara organ internal; kotak suara (siring) terdapat di bagian trakea.
f. Ekskret semi solid; pada yang betina hanya terdapat ovarium dan oviduct kanan.
g. Memiliki 12 pasang saraf cranial.
h. Fertilisasi secara internal; telur mengandung kuning telur yang besar, diselubungi cangkag yang membran embrionik (amnion, chorion, yolk sacus dan allantois); anak yang baru menetas dipelihara induknya.

Aves menunjukan kemajuan bila dibandingkan dengan kelas-kelas hewan yang mendahului dalam hal ini:
1. Tubuh memiliki penutup yang bersifat isolasi.
2. Darah vena dan darah arteri terpisah secara sempurna dalam sirkulasi pada jantung.
3. Pengaturan suhu tubuh.
4. Rata-rata metabolismenya tinggi.
5. Kemampuan untuk terbang.
6. Suaranya berkembang dengan baik.
7. Menjaga anaknya secara khusus.
Hal-hal tersebut diatas menunjukkan kedudukan lebih tinggi dari pada reptilian. Sedangkan dengan mamalia berada dalam tipe penutup tubuh, kemampuan untuk terbang dan hal reproduksi.

2.2 Struktur dan Fungsi dari Aves
A. Ukuran
Burung unta merupakan burung terbesar yang masih hidup. Dengan ketinggian hingga 2,5 meter (8 kaki), dan dan berat 120 kilogram. Burung unta mempunyai leher yang panjang dan mampu berlari sampai 65 km/jam. Burung ini tidak dapat terbang. Burung unta adalah hewan berdarah panas, mempunyai sayap dan tubuh yang diselubungi bulu, paruhnya tidak bergigi dan lancip. Burung unta berasal dari sabana dan bagian gurun Afrika di utara dan selatan zona hutan khatulistiwa. Spesies yang terdapat di Timur Tengah, yakni S. c. syriacus, telah lenyap.
Burung terkecil di dunia yaitu burung kolobri lebah (Mellisuga helenae) lebih mirip serangga. Sebenranya, hanya burung jantan yang panjangnya kurang dari 5 cm. Burung betina lebih panjang sekitar seperenam inci (sekitar 0,6 cm). Keduanya berbobot kira-kira dua gram, Meskipun burung kolibri bukan termasuk jenis yang terancam punah. Tetapi ia bukannya tak terancam dan kini jarang terlihat. Bila terbang, sayapnya mengepak sebanyak 80 kali perdetik. Burung-burung itu biasanya bertempat tinggal di puncak-puncak pohon setinggi 100 kaki (sekitar 30 meter) di hutan-hutan di Kuba dan membangun sarang yang terbuat dari benang laba-laba sebesar tak lebih dari cangkir anak-anak. Seperti kebanyakan burung, makanan utama mereka adalah nektar amat manis yang didapat dari leher bunga-bungaan hutan. Mereka juga menyantap serangga dan laba-laba kecil sebagai makanan tambahan. Burung-burung mungil ini amat independen, kawin hanya selama beberapa detik untuk kemudian masing-masing kembali ke keadaan mereka yang menyendiri.


(a) Struthio camelus (b) Mellisuga helenae
Gambar 1. Burung terbesar dan trekecil di dunia

B. Penutup Tubuh
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1984).
Warna bulu pada burung bermacam-macam. Warna bulu tersebut ada yang disebabkan oleh pigmen yang terdapat di dalam bulu, tetapi ada pula yang disebabkan difraksi cahaya oleh substansi tanduk dari bulu. Penggantian bulu dari burung-burung yang biasa hidup di daerah empat musim (ada musim dinginnya) berlangsung menurut musim; tetapi pada burung-burung di daerah panas, terjadi secara berangsur-angsur (gradual). Bulu baru yang mengganti bulu lama, tumbuh dari matriks pada dasar folikel bulu.
Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi:
• Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
• Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail.
• Plumae, Bulu yang sempurna.
• Barbae
• Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan.

Gambar 2. Struktur bulu
Susunan plumae terdiri dari :
1. Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu.
2. Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu.
3. Rachis, yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan
4. Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis.

Gambar 3. Struktur Bulu Burung
(sumber: Harunyahya.com)
Lubang pada pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile.
Menurut letaknya, bulu aves dibedakan menjadi:
• Tectrices, bulu yang menutupi badan.
• Rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai kemudi.
• Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi:
• remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara metacarpal pada metacarpalia.
• Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial ulna.
• Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan sekunder daerah siku.
• Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu.
• Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari (Jasin, 1984).
Pada burung heron terdapat bentukan bulu yang khusus yang disebut sebagai bulu powder/ bulu bubuk. Bulu ini hampir sama dengan bulu pada umumnya tetapi barbulaenya terpisah menjadi bubuk halus seperti bedak. Fungsi bulu ini belum jelas, tetapi pada saat burung melumasi bulu dengan cara menjilatinya, bulu bubuk membantu mengisolasi panas tubuh dan membantu menghangatkan telur saat pengeraman.

Gambar 4. Burung Hantu
(Sumber: http://en.wikipedia.org)
Semi plumae adalah kumpulan bulu barbula yang letaknya tersembunyi di bawah bulu-bulu luar. Bistle adalah bulu perasa berupa shaft yang memanjang melebihi bulu luar, ditemukan pada kepala burung Caprimulgids dan burung penangkap serangga flycatchers (Sukiya, 2003). Bristle yang menutupi lubang hidung terdapat pada burung pelatuk. Hal ini merupakan bentuk adaptasi burung pelatuk agar partikel-partikel kayu tidak masuk saluran pernafasan. Bristle pada burung hantu dan caprimulgids membantu mendeteksi posisi sarang, tempat bertengger dan benda yang menghalangi. Fungsi bristle didukung oleh adanya getaran dan tekanan reseptor didekat folikel bulu (Sukiya, 2003).
Bentuk bulu ekor burung pada saat tidak terbang bermacam-macam, antara lain berbentuk persegi, bertakik, bercabang, bulu sebelah luar memanjang, bulu ekor dengan raket, bulu tengah panjang, bundar, berbentuk cakram, berbentuk tingkatan, dan berujung runcing (Sukiya, 2003).

C. Sayap, Paruh dan Kaki
Bentuk bagian tubuh hewan tidak sama. Apabila kita teliti ternyata benuk sayap, paruh dan kaki burung berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Sayap
Sayap burung merupakan airfoil yang menggambarkan prinsip aerodinamika yang sama seperti sayap pesawat terbang. Beberapa burung, seperti burung rajawali dan elang, memiliki sayap yang diadaptasikan untuk meluncur hanya dengan bantuan aliran udara maupun tiupan angin dan hanya sekali mengepakkan sayapnya; burung lain, termasuk kolibri, harus mengepakkan sayapnya terus menerus untuk memperthankan dirinya tetap melayang di udara.


Gambar 5. Bentuk Sayap Burung

Paruh dan Kaki
Bentuk paruh dan kaki burung berbeda-beda. Hal ini karena adanya penyesuaian diri. Paruh pada burung ditutupi zat tanduk, bentuk paruh disesuaikan dengan jenis makanan. Lidah pada beberapa jenis burung dapat dijulurkan seperti pada burung madu. Paruh burung berfungsi untuk:
- Mendapatkan makanan;
- Mengelus/membersihkan bulu;
- Membangun sarang; dan
- Pertahanan.

Gambar 6. Adaptasi paruh dan kaki


Gambar 7. Paruh burung pelatuk

Paruh pada burung pelatuk sangat kuat. Perhatikan gambar 7, Pada gerakan paruh atas burung pelatuk, ketika paruh mematuk pohon, burung ini mengalami guncangan hebat. Namun, ada dua cara yang diciptakan untuk meredam guncangan ini. Pertama adalah jaringan penghubung lunak berongga di bawah tengkorak dan paruh, yang secara tajam mengurangi guncangan tersebut. Kedua adalah lidah burung pelatuk. Lidah ini berputar di dalam tengkorak untuk menempel pada puncak kepala burung pelatuk. Aturan otot lidah ini agak mirip dengan kain gendongan dan dapat mengurangi guncangan tiap patukan paruh ke pohon. Oleh karena itu, guncangan ini (yang diredam oleh jaringan lunak) hampir berkurang hingga tak ada sama sekali.

D. Skeleton
Seluruh burung yang dapat terbang dilengkapi dengan tulang dada yang sangat kuat (sternum) yang memiliki lempengan datar yang lebar, yang disebut lunas, sebagai sambungan otot-otot terbang. Karena burung dirancang untuk tujuan terbang, tulang-tulang mereka berongga dan terbungkus otot-otot.
Tulang cranium pada anak unggas masih terpisah, yang kemudian bersatu setelah dewas. Rongga otak berbentuk bulat, dengan rongga besar orbit tempat terdapatnya mata dan rahang (premaxilla, maxilla, dan mandibula) menjorok kedepan membentuk paruh.

Gambar 8. Skeleton Unggas

Leher terdiri dari sekitar 16 ruas vertebra service. Vertebra tubuh tersusun sangat rapat; vertebra toraks ada yang berhubungan dengan tulang rusuk kea rah lateral, yang lainnya berfusi membentuk synsacrum dan menjadi tempat meletaknya pelvis. Tidak ada daerah lumbar. Vertebra ekor terdiri dari 4 ruas yang bebas dan 5-6 ruas lainnya bersatu membentuk pygostyle, yang membantu pergerakan bulu ekor.
Skeleton bagian toraks terdiri dari: (1) vertebra dibagian dorsal; (2) rusuk pipih dibagian lateral; dan (3) sternum di bagian ventral. Setiap rusuk toraks terhubung ke vertebra di satu sisi, dan sternum di sisi lainnya. Sedangkan tulang dibagian pectoral terdiri dari: (1) tulang bahu (scapula) yang terletak parallel dengan vertebra dan diatas rusuk; (2) coracoids yang terdapat diantara scapula dan sternum; dan (3) clavicula yang menggantung vertical dari scapula. Dua tulang clavicula bersatu dibagain tengah membentuk huruf V dan disebut furcula.
Setiap anggota tubuh bagian depan melekat ke bagian dorsal, tulang humerus melekat pada coracoids. Anggota tubuh depan terdiri dari radius dan ulna. Tulang ulna mengalami modifikasi agar cukup kuat untuk terbang. Terdapat 2 tulang carpal dan 3 digiti, 1 tulang carpal lainnya berfusi dengan 3 metacarpal dan membentuk carmometacarpus. Sayap sekunder berada pada daerah radius dan ulna, dan sayap tersier pada bagian humerus. Pada bagian pelvic terdapat ilium di bagian anterior, ischium di bagian posterior, dan pubis di bagain ventral. Ketiganya bersatu pada bagian yang disebut acetabulum. Setiap kaki terdiri dari: (1) tulang femur; (2) tibiotarsus yang panjang; (3) tarsoetatarsus; (4) tulang lutut / patella; dan (5) empat jari, tiga jari didepan dan 1 jari di belakang.

E. Sistem Musculus (Otot)
Pada aves dan mamlia otot dagig extermitas berkembang menjadi besar, hal ini berhubungan dengan aktivitas gerak yang cepat. Gerak sayap pada wakru terbang dilakukan oleh musculus pectoralis yang terdapat pada dada, berupa otot daging putih. Musculus pectoralis dibedakan atas: musculus pectoralis mayor yang terletak di sebelah luar, dan musculus pectoralis minor yang terletak sebelah dalam.kedua ujung otot pada dada terikat di carina atau sterni, sedangkan ujung lain terikat pada kepala humerus dari ayap di sebelah ventro lateral. Kontarksi otot yang bergantian menyebabkan sayap bergerak ke atas ke bawah sehingga burung dapat terbang. Otot daging dari femur (extermitas posterior) pada prinsipnya untuk lari dan menangkap. Otot daging pada kaki bawah dan telapak kaki sedikit, sebagai penyesuaian menghindari banyaknya panas tubuh yang hilang pada bagian ini yang tidak berbulu. Jari dapat digerakkan dengan bantuan tendon yang terhubung ke otot yang terdapat pada bagian atas kaki.


Gambar 9. Diagram otot daging pectoralis

F. Sistem Pencernaan
Organ pencernaan pada burung terbagi atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian, hewan kecil, dan buah-buahan. Saluran pencernaan pada burung terdiri atas:
1) Paruh: merupakan modifikasi dari gigi,
2) Rongga mulut: terdiri atas rahang atas yang merupakan penghubung antara rongga mulut dan tanduk,
3) Faring: berupa saluran pendek,
4) Esofagus: pada burung terdapat pelebaran pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan makanan yang dapat diisi dengan cepat,
5) Lambung terdiri atas:
• Proventrikulus (lambung kelenjar): banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding ototnya tipis.
• Ventrikulus (lambung pengunyah/empedal): ototnya berdinding tebal. Pada burung pemakan biji-bijian terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama makanan vang berguna untuk membantu pencernaan dan disebut sebagai " hen’s teeth”,
6) Intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada kloaka.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum.
Mulut Kerongkongan Esophagus (tembolok) Lambung kelenjar Lambung pengunyah Usus halus Usus besar kloaka


Gambar 10. Sistem pencernaan aves

Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan pankreas. Pada burung merpati tidak terdapat kantung empedu.


Gambar 11. Kelenjar pencernaan Aves

G. Sitem Circulatoria (Sirkulasi)
Alat-alat transportasi pada burung merpati terdiri atas jantung dan pembuluh darah. Jantung terdiri atas empat ruang yaitu serambi kiri, serambi kanan, bilik kiri dan bilik kanan. Darah yang banyak mengandung oksigen yang berasal dari paru-paru tidak bercampur dengan darah yang banyak mengandung karbondioksida yang berasal dari seluruh tubuh. Peredaran darah burung merupakan peredaran darah tertutup dan ganda yang terdiri atas peredaran darah kecil dan peredaran darah besar.


Gambar 12. Sistem Sirkulasi Aves

Pemisahan aliran darah merupakan faktor penting dalam mempertahankan suhu tubuh. Sinus venosus mengalirkan darah ke serambi kanan. Darah yang berasal dari 2 vena precava dan 1 vena postcava, memasuki serambi kanan, kebilik kanan dan selanjutnya melalui arteri pulmonary menuju kapiler di paru-paru untuk memperoleh oksigen. Kemudian darah mengalir melalui vena pulmonary menuju serambi kiri, lalu bilik kiri dilanjutkan ke pembuluh aorta kanan. Aorta kanan bercabang menjadi 2 arteri, masing-masing bercabang lagi menjadi 3, yaitu carodit menuju kepala dan leher, brachial menuju sayap, dan petoral menuju otot dada. Pembuluh aorta lainnya memanjang di bagian dorsal dan posterior, membentuk aorta dorsal yang mengalirkan darah ke organ internal dan bagian tubuh lainya.
Pembuluh darah vena dibedakan atas:
1. Yang masuk kedalam atrium dextrum yaitu vena cava superior terdiri atas vena cava superior sinistrum dan vena cava superior dextrum. Masing-masing vena cava tersebut menerima darah dari: vena cava juguralis dari daerah kepala, vena subclavia dari anggota muka, vena pectoralis dari musculus vektoralis, vena cava inferior, yang membawa darah dari bagian bawah tubuh.
2. Yang masuk kedalam atrium sinistrum yaitu dua buah vena pulmonalis yang dating dari pulmo kanan dan kiri.
Sistem portae hanya satu macam yaitu sistem hepatis. Erythrocyte berbentuk oval dan masih bernucleus.

H. Sitem Respirasi
Pada burung, aliran udara cuma satu arah. Udara baru datang pada ujung yang satu, dan udara yang telah digunakan keluar melalui lubang lainnya. Hal ini memberikan persediaan oksigen yang terus-menerus bagi burung, yang memenuhi kebutuhannya akan tingkat energi yang tinggi. Michael Denton, seorang ahli biokimia Australia serta kritikus Darwinisme yang terkenal menjelaskan paru-paru unggas sebagai berikut:
Dalam hal burung, bronkhus (cabang batang tenggorokan yang menuju paru-paru) utama terbelah menjadi tabung-tabung yang sangat kecil yang tersebar pada jaringan paru-paru. Bagian yang disebut parabronkhus ini akhirnya bergabung kembali, membentuk sebuah sistem peredaran sesungguhnya sehingga udara mengalir dalam satu arah melalui paru-paru. Meskipun kantung-kantung udara juga terbentuk pada kelompok reptil tertentu, bentuk paru-paru burung dan keseluruhan fungsi sistem pernapasannya sangat berbeda. Tidak ada paru-paru pada jenis hewan bertulang belakang lain yang dikenal, yang mendekati sistem pada unggas dalam hal apa pun. Bahkan, sistem ini mirip hingga seluk-beluk khususnya pada semua burung.
Aves bernafas dengan paru-paru yang berhubungan dengan kantong udara (sakus pneumatikus) yang menyebar sampai ke leher, perut dan sayap. Kantung udara terdapat pada:
a. Pangkal leher (servikal)
b. Ruang dada bagian depan (toraks anterior)
c. Antar tulang selangka (korakoid)
d. Ruang dada bagian belakang (toraks posterior)
e. Rongga perut (saccus abdominalis)
f. Ketiak (saccus axillaris)
Fungsi kantung udara:
a. Membantu pernafasan terutama saat terbang.
b. Menyimpan cadangan udara (oksigen).
c. Memperbesar atau memperkecil berat jenis pada saat burung berenang.
d. Mencegah hilangnya panas tubuh yang terlalu banyak.
Inspirasi: udara kaya oksigen masuk ke paru-paru. Otot antara tulang rusuk (interkosta) berkontraksi sehingga tulang rusuk bergerak ke luar dan tulang dada membesar. Akibatnya teklanan udara dada menjadi kecil sehingga udara luar yang kaya oksigen akan masuk. Udara yang masuk sebagian kecil menuju ke paru-paru dan sebagian besar menuju ke kantong udara sebagai cadangan udara.
Ekspirasi: otot interkosta relaksasi sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi semula. Akibatnya rongga dada mengecil dan tekanannya menjadi lebih besar dari pada tekanan udara luar. Ini menyebabkan udara dari paru-paru yang kaya karbondioksida ke luar.
Aliran udara searah dalam paru-paru burung didukung oleh suatu sistem kantung udara. Kantung-kantung ini mengumpulkan udara dan memompanya secara teratur ke dalam paru-paru. Dengan cara ini, selalu ada udara segar dalam paru-paru. Sistem pernafasan yang rumit seperti ini telah diciptakan untuk memenuhi kebutuhan burung akan jumlah oksigen yang tinggi.
Pernafasan burung saat terbang :
Saat terbang pergerakan aktif dari rongga dada tidak dapat dilakukan karena tulang dada dan tulang rusuk merupakan pangkal perlekatan otot yang berfungsi untuk terbang. Saat mengepakan sayap (sayap diangkat ke atas), kantong udara di antara tulang korakoid terjepit sehingga udara kaya oksigen pada bagian itu masuk ke paru-paru.


Gambar 14. Sistem respirasi Aves

I. Sitem Ekskresi
Alat ekskresi berupa ren yang relative besar, berwarna merah coklat, tertutup oleh peritoneum (retroperitorial). Tiap-tiap ren terbagi atas 4 lobi. Dari dataran ren sebelah ventral keluar ureter yang sempit menuju ke caudal dan berakhir pada kloaka. Darah yang berasal dari arteri renalis akan disaring secara filtarasi. Zat-zat yang tidak berguna dalam darah terutama berupa ureum akan dibuang dalam proses filtrasi ini.

J. Sistem Reproduksi
Kelompok burung merupakan hewan ovivar. Walaupun kelompok burung tidak memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh (inernal). Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka.
Pada hewan jantan terdapat sepasang testis yang bulat, berwarna putih, melekat disebelah anterior dan ren dengan suatu alat penggantung. Testis sebelah kanan lebih kecil dari pada yang kiri. Dari masing-masing testis terjulur saluran vasa deferansia sejajar dengan ureter yang berasal dari ren. Pada sebagian besar aves memiliki vesicular seminalis yang merupakan gelembung kecil bersifat kelenjar sebagai tempat menampung sementara sperma sebelum dituangkan melalui papil yang terletak pada kloaka. Di dalam kloaka pada beberapa spesies memiliki penis sebagai alat untuk menuangkan sperma ke kloaka hewan betina.
Pada heawan betina, sistem genitalia burung betina terdiri atas:
a. Ovarium. Selain pada burung elang, ovarium aves yang berkembang hanya yang kiri, dan terletak di bagian dorsal rongga abdomen.
b. Saluran reproduksi, oviduk yang berkembang hanya yang sebelah kiri, bentuknya panjang, bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh mesosilfing dan dibagi menjadi beberapa bagian; bagian anterior adalah infundibulumyang punya bagian terbuka yang mengarah ke rongga selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre. Di posteriornya adalah magnum yang akan mensekresikan albumin, selanjutnya istmus yang mensekresikan membrane sel telur dalam dan luar. Uterus atau shell gland untuk menghasilkan cangkang kapur.


Gamabr 15. Sistem reproduksi pada Aves Jantan dan Aves betina

Proses festilisasi pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka. Fertilisasi akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi cangkang berupa zat kapur.
Telur dapat menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang.

Gamabr 16. Bagian-bagian telur Aves Gambar 17. Sarang burung

Fungsi bagian-bagian telur aves :
 Titik embrio : bagian yang akan berkembang menjandi embrio
 Kuning telur : cadangan makanan embrio
 Kalaza : menjaga goncangan embrio
 Putih telur : menjaga embrio dari goncangan
 Rongga udara : cadangan oksigen bagi embrio
Anak-anak ayam, bebek, dan burung-burung panatai bersifat precocial, yaitu setelah ditetaskan anak burung ditutupi oleh bulu-bulu halus dan langsung dapat berjalan atau berlari. Burung-burung penyanyi, pelatuk, merpati, anak-anaknya bersifat altrical, yaitu setelah ditetaskan belum tumbuh bulu-bulu dan masih harus dibantu, dipelihara, dan diberi makan. Anak-anak burung yang bersifat altricial membutuhkan ± 1 minggu setelah menetas untuk meninggalkan sarang. Semua anak-anak burung memerlukan pemeliharaan setelah ditetaskan yang berupa pemberian makan, penjagaan, atau perlindungan dari sinar matahari dan hujan.


Gambar 18. Sifat anak burung setelah ditetaskan

K. Sistem Nervorum
Encephalon (otak) secara relatif lebih besar bila dibandingkan dengan reptilian. Otak dibagi atas tiga bagian yang pokok yakni:
a) Prosencephalon (bagian muka), terbagi atas:
- Telencephalon (bagian temuka)
- Diencephalon (bagian belakangnya)
b) Mesencephalon (bagian tengah)
c) Rhombencephalon, terdiri atas:
- Metencephalon (bagian atas)
- Myencephalon (bagian bawah)
Selanjutnya bila ditinjau dari facies dorsalis akan tampak bagian-bagian:
1. Lobi olfactorii yang terdapat di bagian terkemuka. Kedua lobi kanan kiri bersatu ditegah. Dibagian anterior lobus ini akan keluar nervus olfactorius yang menuju ke organ/alat pembau. Lobi ini termasuk telencephalon.
2. Hemisphaerium cerebri yang terdiri atas dua buah yang berbentuk ovaid kedua bagian ini berhubungan dengan perantara comissura anterior. Hemisphaerium termasuk Diencephalon.
3. Mesencephalon yang sering disebut lobus opticus yang terdiri atas dua bagian.
4. Cerebellum (otak kecil), secara embional disebut metencephalon. Bagian ini memanjang transversal sempit, terletak dibelakang mesencephalon.
5. Medulla oblongata, yang secara embironal disebut metencephalon. Terdapat disebelah belakang cerebellum. Bagian ini ditutupi oleh selaput yang penuh dengan pembuluh-pembuluh darah.

Ditinjau dari facies ventralis akan tampak bagian-bagian berikut:
1. Lobus olfactorius
2. Haemespherium cerebri
3. Chiasma nervi optici, yaitu suatu persilangan pada diencephalon yang dibentuk oleh persilangan nervus opticus dari kanan-kiri.
4. Tuber cinerum, merupakan tonjolan di tengah-tengah dibelakang chiasma.
5. Infundibilum, yang terdapat diatas tuber cinerum dibelakang nervi optici. Bagian ini merupakan rangkai dari pada hypophysa.
6. Hypophysa, melekat pada ujung infundibulum, merupakan coordinator dari kelenjar-kelenjar endocrin lainnya.
7. Crura cerebri, merupakan tonjolan kanan-kiri dari tuber cinerum, terletak pada dasar lobus opticus. Bagian ini merupakan penghubung antara haemisphaerium dengan medulla oblongata.
8. Medulla oblongata, merupakan penghubung antara envephalon dengan medulla spinalis.
9. Medulla spinalis (sumsum tulang belakang), terdapat di sepanjang gelang-gelang atau archus nueralis dari vertebrate. Sebagai akhir berupa benang yang disebut filum terminalis. Encephalon dan medulla spinalis sebagai saraf sentral. Dari sentral itu akan keluar syaraf tepi. Dari encephalon akan kelua 12 pasang nervi cranialis, sedangkan dari medulla spinalis akan keluar 10 pasang saraf spinalis. Nantinya akar syaraf-staraf ini akan menuju ke alat-alat atau bagian-bagian tubuh.

L. Organ Sensori (Alat Indera)
Indra pada burung yang berkembang dengan baik adalah indra penglihatannya yaitu mata. Mata burung dapat berakomodasi dengan baik. Burung yang hidup dan mencari makanan pada malam hari pada retinanya banyak mengandung sel batang, sedangkan burung yang hidup dan mencari makanan pada siang hari pada retinanya banyak mengandung sel kerucut.
Indra perasa terdapat kucup-kuncup perasa pada lidah dan atap rongga mulut. Indera ini memungkinkan aves memilih makanannya. Kemampuan memilih makanan itu dibantu oleh receptor tekanan pada paruh dan lidah. Indra pendengar berupa telinga yang terbagi atas tiga rongga yakni rongga luar, tengah, dan dalam. Getaran dari luar akan meresonansi membra tympani yang selanjutnya akan diteruskan oleh columella auris yang terletak dalam rongga telinga tengah. Rogga ini dihubungkan oleh ductus eusthachius ke pharynx. Dari columella aurisgetaran diteruskan ke cochlea (rumah siput) melalui jendela jorong. Dari rumah siput ini getaran diteruskan ke otak untuk diartikan. Cochlea Aves relatif lebih pendek bila dibandingkan dengan cochlea Reptil.

M. Glandulae Endocrin
Kelenjar endocrin terdiri atas: glandulae pituitaria atau hypophysa sebagai the master of gland, terletak didasar otak pada ujung infundibulum. Glandulae thyroidea yang terletak dibawah vena jugularis dekat asal cabang arteri subclavica dan arteri carotis. Glandulae pancreaticus mengandung pulau-pulau Langerhan menghasilkan hormone insulin. Glandulae sub renalis atau glandulae andrenalis terletak pada permukaan ventral ren, glandulae sexualis mengahsilkan hormon sex yang mempengaruhi tanda kelamin sekunder terutama pada warna bulu.

N. Perilaku
Pada setiap burung memiliki perilaku-perilaku khusus yang dapat dipergunakan untuk keperluannya masing-masing. Misalnya untuk menarik perhatian betina ketika saat akan kawin. Pada burung elang ketika akan berbiak, perilaku display di udara mulai dilakukan. Perilaku seperti soaring berpasangan, kejar-kejaran (betina terjun diagonal di ikuti oleh jantan mengejar dari belakang), dan presentasi talon berpasangan, tercatat selama pengamatan pada sepasang elang Filipina pada awal juli 1999.

Gambar 19. Perilaku Burung Elang

Pola perkembangan juvenil ditunjukkan pada tabel di bawah ini (Kennedy, 1985):
Age when the head is held up 7-10 days
Stood momentarily 25-27 days
First wing flapping 32 days
First pin feathers appear in scapulars 37 days
Walking 45 days
First eating by itself 54 days
First time off nest 118-151 days
Fledged (departed nest tree) 130-164 days
Started to wander from nest area 246-288 days
First observed kill 304 days
Last seen in parent’s home range 640 days

Rentang umur elang Filipina di alam liarnya tidak diketahui. Namun dari hasil pengamatan terhadap elang Filipina yang dikandangkan, memiliki umur hingga 41 tahun. Tetapi karena keadaan di alam liar lebih tidak terkontrol dibandingkan dengan keadaan di kandang, diperkirakan umur elang ini di alam liar lebih pendek daripada elang Filipina yang dikandangkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Poskan Komentar